"Pulang dengan Cinta: Memaknai Idul Fitri 1447 H dengan Hati yang Lebih Lembut
Oleh Aan Frimadona Roza, Mengajar di UPT SMPN 7 Banjit dan Penggiat Rumah Baca Yussuf Baradatu.
Oleh Aan Frimadona Roza, Mengajar di UPT SMPN 7 Banjit dan Penggiat Rumah Baca Yussuf Baradatu.
Cinta adalah sebuah do'a dan do'a adalah cinta. Siapapun yang mencintamu,akan berdo'a untukmu. Dan siapapun yang berdo'a untukmu, ia telah menuangkan rasa cintanya untukmu. (Jalaludin Rumi )
Idul Fitri selalu terasa istimewa. Setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan berbagai keinginan, kita sampai pada satu titik yang disebut kemenangan. Tapi sebenarnya, kemenangan itu bukan soal berhasil berpuasa saja. Lebih dari itu, Idul Fitri adalah tentang pulang—pulang menjadi diri yang lebih bersih, lebih tenang, dan lebih penuh cinta.
Seorang sufi besar, Jalaluddin Rumi, pernah memandang cinta sebagai sesuatu yang sangat dalam. Baginya, cinta bukan sekadar perasaan biasa. Cinta adalah kekuatan yang bisa mengubah manusia, menyembuhkan luka, bahkan mendekatkan kita kepada Tuhan. Cinta tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika, tapi bisa dirasakan oleh hati yang tulus.
Kalau kita renungkan, perjalanan selama Ramadan sebenarnya adalah latihan mencintai. Kita belajar menahan diri, bukan karena terpaksa, tapi karena ingin menjadi lebih baik. Kita berbagi dengan sesama, membantu yang membutuhkan, dan berusaha memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang. Semua itu adalah bentuk cinta—cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia.
Saat Idul Fitri tiba, cinta itu menemukan bentuknya yang paling sederhana tapi bermakna: saling memaafkan. Kita datang kepada orang tua, keluarga, teman, bahkan mungkin orang yang pernah menyakiti kita, lalu dengan rendah hati mengatakan, “maafkan saya.” Di situlah letak keindahan Idul Fitri. Ego yang selama ini tinggi, perlahan diturunkan. Hati yang keras, mulai dilunakkan.
Rumi mengajarkan bahwa cinta sejati sering hadir dalam bentuk kerinduan. Kerinduan untuk menjadi lebih baik, kerinduan untuk dekat dengan Tuhan, dan kerinduan untuk hidup damai dengan sesama. Idul Fitri adalah jawaban dari kerinduan itu. Ia seperti titik terang setelah perjalanan panjang yang melelahkan.
Namun, Idul Fitri bukanlah akhir. Ia justru awal. Awal untuk menjaga hati tetap bersih, menjaga hubungan tetap baik, dan menjaga cinta tetap hidup dalam keseharian. Jangan sampai semangat memaafkan hanya berhenti di hari raya. Jangan sampai kebaikan hanya muncul sesaat.
Sebagai insan pendidik dan tenaga kependidikan sebagai mahkluk sosial dimasyarakat, kita juga diingatkan bahwa membangun peradaban tidak cukup dengan ilmu saja. Harus ada cinta di dalamnya. Cinta dalam belajar, cinta dalam berbagi, dan cinta dalam membangun kebersamaan.
Akhirnya, Idul Fitri 1447 H ini mengajak kita semua untuk benar-benar pulang. Bukan hanya pulang ke rumah, tapi pulang ke hati yang lebih jernih. Pulang ke diri yang lebih peduli. Dan yang terpenting, pulang kepada cinta yang membuat hidup terasa lebih indah.
Selamat Idul Fitri 1447 H.
Mohon maaf lahir dan batin.
Tabik.