Banjit, 30 April 2026 — Pagi baru saja merekah ketika halaman UPT SMPN 7 Banjit mulai dipenuhi langkah-langkah kecil yang bergegas. Seragam putih biru berpadu dengan senyum warga, guru, dan orang tua. Tak ada jarak di sana semua menyatu dalam satu irama: merayakan sepuluh tahun perjalanan sekolah, bersamaan dengan ulang tahun ke-27 Kabupaten Way Kanan.
Tak ada panggung megah yang berlebihan. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Senam sehat massal membuka hari dengan gerak yang serentak. Tangan terangkat, kaki melangkah, dan tawa pecah tanpa sekat. Sejenak, semua lupa pada peran masing-masing yang ada hanya kebersamaan yang hangat dan jujur.
Di sisi lain, panggung sederhana berdiri sebagai saksi keberanian. Satu per satu siswa tampil. Ada yang menari dengan gemulai, ada yang bernyanyi dengan suara yang masih bergetar, ada pula yang tampil penuh percaya diri. Mereka bukan sekadar tampil mereka sedang menemukan dirinya.
Tak jauh dari sana, deretan meja market day dipenuhi warna dan aroma. Kue-kue buatan tangan siswa, minuman segar, hingga kerajinan sederhana tersusun rapi. Transaksi kecil terjadi, tetapi maknanya besar: di sanalah anak-anak belajar berdiri di atas usaha mereka sendiri.
Waktu berjalan, dan suasana semakin hidup ketika kupon undian mulai dipegang erat. Nama demi nama dipanggil, disambut sorak dan harap. Hingga akhirnya, hadiah utama diumumkan seekor kambing dari dewan guru.
Riuh itu pecah bukan karena nilainya, tetapi karena kebersamaan yang terasa utuh.
Di tengah semua itu, Kepala UPT SMPN 7 Banjit, Aan Frimadona Roza, M.Pd, berdiri dengan pandangan yang seolah menembus waktu.
“Sepuluh tahun ini bukan perjalanan yang mudah. Tapi dari kebersamaan, kita belajar untuk terus bertahan dan berkembang,” ucapnya pelan namun pasti.
Ia menyadari, sekolah ini bukan berdiri sendiri.
Sebagai bagian dari pelayanan pendidikan di bawah Pemerintah Kabupaten Way Kanan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, SMPN 7 Banjit terus berusaha menjaga komitmen memberikan pendidikan yang tak hanya mengajar, tetapi juga membentuk.
Dukungan banyak pihak terasa nyata hari itu. Dari pemerintah, para pendidik, organisasi, hingga masyarakat yang tak pernah absen memberi ruang dan kepercayaan. Semua menjadi bagian dari cerita yang sama cerita tentang sekolah yang tumbuh bersama lingkungannya.
Ucapan terima kasih mengalir, terutama kepada komite sekolah, dewan guru, panitia, OSIS, dan seluruh siswa yang telah menghidupkan hari itu dengan semangat yang tak dibuat-buat.
Menjelang siang, keramaian perlahan mereda. Namun ada sesuatu yang tertinggal bukan sampah acara, melainkan rasa. Rasa bahwa sekolah ini lebih dari sekadar tempat belajar. Ia adalah rumah bagi harapan, tempat mimpi-mimpi kecil dirawat agar kelak tumbuh besar.
Dan dari halaman sederhana itu, satu hal menjadi jelas:
masa depan tidak lahir dari kemegahan, tetapi dari kebersamaan yang terus dijaga.