Peringatan Hari Kartini ke-147 pada 21 April 2026 bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum reflektif untuk meneguhkan kembali semangat perjuangan perempuan Indonesia dalam menembus batas ketidakadilan menuju kemajuan.
Dengan mengusung semangat kolaborasi dan emansipasi perempuan menuju Indonesia Emas 2045, peringatan tahun ini terasa semakin relevan, terutama dalam dunia pendidikan yang menjadi fondasi utama perubahan.
Ungkapan legendaris R.A. Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang,” sejatinya bukan hanya simbol perjuangan perempuan, tetapi juga filosofi pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah jalan terang yang membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Dalam konteks hari ini, semangat Kartini hadir dalam setiap ruang kelas, dalam setiap lembar jawaban siswa, dan dalam setiap upaya guru mendampingi peserta didik mencapai masa depan yang lebih baik.
Di UPT SMPN 7 Banjit, peringatan Hari Kartini tahun ini beriringan dengan pelaksanaan Ujian Sekolah (US) bagi siswa kelas IX, yang dimulai sejak 20 April hingga 25 April 2026. Sebanyak 48 peserta didik mengikuti ujian dengan penuh kesungguhan, terbagi dalam tiga ruang ujian guna menjaga kenyamanan dan ketertiban. Hari pertama diisi dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Agama Islam, dua bidang yang tidak hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan nilai moral siswa.
Secara bersamaan, siswa kelas VII dan VIII juga melaksanakan Ujian Mid Semester dengan suasana yang tertib dan penuh semangat. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai jadwal, dengan pengawasan ketat dari para guru dan panitia. Ini menjadi bukti bahwa kolaborasi yang baik antar seluruh elemen sekolah mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Keberhasilan pelaksanaan ujian ini merupakan hasil kerja sama semua pihak—mulai dari panitia, pengawas, hingga peserta didik yang menunjukkan kedisiplinan tinggi. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan bukanlah kerja individu, melainkan gerakan bersama yang melibatkan banyak peran.
Semangat Kartini hari ini juga tercermin dalam kesetaraan kesempatan belajar bagi seluruh siswa, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak ada lagi sekat yang membatasi potensi anak bangsa. Setiap siswa memiliki hak yang sama untuk bermimpi, belajar, dan meraih masa depan gemilang. Inilah bentuk nyata emansipasi di era modern—bukan hanya soal kesetaraan gender, tetapi juga tentang keadilan dalam akses pendidikan dan kesempatan berkembang.
Ujian Sekolah yang sedang berlangsung bukanlah akhir, melainkan gerbang awal menuju jenjang kehidupan berikutnya. Ia adalah titik uji sekaligus titik tumbuh. Di sinilah mental, kejujuran, dan kerja keras siswa diuji. Di sinilah harapan orang tua dipertaruhkan, dan masa depan mulai dirintis.
Sebagai kepala sekolah, saya meyakini bahwa setiap lembar jawaban yang ditulis siswa hari ini adalah bagian dari cerita besar bangsa ini di masa depan. Jika Kartini dahulu memperjuangkan hak perempuan untuk belajar, maka tugas kita hari ini adalah memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan bermakna.
Akhirnya, peringatan Hari Kartini tahun ini mengajarkan kita bahwa perjuangan belum selesai. Terang yang diperjuangkan Kartini harus terus dijaga dan diperluas. Melalui pendidikan yang kuat, karakter yang kokoh, dan kolaborasi yang solid, kita optimis dapat melahirkan generasi tangguh yang siap membawa Indonesia menuju masa depan gemilang.
Selamat Hari Kartini.
Teruslah menjadi terang, dari ruang kelas hingga masa depan bangsa.